Malam Senin, 22 Januari 2012 Pukul 21.30-23.30
Ada banyak metode yang digunakan para ulama klasik untuk pengembangan keilmuan Islam. Diantara metode yang digunakan oleh para ulama klasik adalah metode diskusi atau debat. Metode ini relatif secara nalar lebih menantang. Al-Zarnuji dalam kitabnya yang berjudul Ta’limul muta’allim mengatakan, “Seyogyanya seorang pelajar itu melakukan mudzakarah, munazharah dan muthorohah” . Ketiga istilah tersebut, semuanya mengacu kepada apa yang dinamakan dengan diskusi, debat dan musyawarah. Selain itu, beliau juga menyampaikan sebuah perbandingan kegunaan metode berdebat dengan metode takror (mengulang-ngulang kembali materi), dimana kegunaan dari metode berdebat lebih kuat dari pada metode takror. Alasannya adalah bahwa terdapat kelebihan yang tidak akan bisa diraih hanya dengan mengulang pelajaran saja. Hal ini cukup logis, sebab kenyataannya dengan berdebat, apa-apa yang dapat diraih dengan mengulang pelajaran, akan diraih pula dengan metode debat, dan tidak sebaliknya.
Selain itu, sejarah mencatat bahwa salah satu rahasia umat islam dapat meraih kejayaan khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan, disebabkan karena para ulamanya selalu aktif melakukan perdebatan, baik perdebatan polemis maupun dialogis. Seperti Al-Imam al-Syafi’i dalam bukunya yag berjudul Jima’ al-‘Ilmi, dimana kitab tersebut merupakan dokumentasi perdebatan beliau dengan sebagian kelompok yang menentang penggunaan hadits ahad dalam hukum-hukum fiqh. Al-Imam Fakhruddin al-Razi dalam bukunya yang berjudul al-Munazharat, yang merupakan dokumentasi perdebatan beliau dengan para pakar teologi dimasa itu. Bahkan kisah-kisah perdebatan para ulama banyak sekali kita jumpai dalam kitab-kitab sejarah, thabaqat dan manaqib.
Berdasarkan paparan diatas, penulis menyimpulkan bahwa metode pembelajaran dan pengajaran dengan berdebat bukanlah sesuatu yang progresif apalagi dikatakan sebagai penemuan keilmuan modern.
Salah satu program mingguan santri Pontren Miftahulhuda Al-Musri’ adalah kegiatan tarqiban, yang dalam prakteknya merupakan aplikasi dari latihan diskusi dan berdebat. Dimana, setiap kelas dari tingkat I’dadiyah sampai tingkat Ma’had ‘Ali ikut terlibat dalam kegiatan tersebut. Masing-masing dari tiap kelas dijadikan beberapa kelompok dan diawasi oleh seorang santri senior dari tingkat Dirosatul’ulya.
Selain menggunakan teknis seperti diatas, para santri juga menggunakan teknis debat terbuka mengkaji dan menela’ah sebuah tema. Adapun cara yang digunakan, tidak jauh berbeda dengan debat terbuka biasa, yang terdiri dari narasumber dan seorang moderator. Seperti yang telah dilaksanakan, tema yang menjadi pembahasan adalah Pancasila dan Syari’ah, narasumber yang bertugas adalah dari kelas 1 Ma’had ‘Ali dan dipimpin oleh seorang Moderator dari Dirosatul’ulya, narasumber dibagi menjadi dua kubu (Pro Syari’ah dan Pro Demokrasi). Kemudian secara berurutan, masing-masing dari narasumber menyampaikan argumennya. Lalu masing-masing pihak diberi kesempatan untuk menyanggah argumen lawan debatnya. Tak ketinggalan para penonton pun diberi kesempatan untuk bertanya dan menyanggah argumen para narasumber.
Kegiatan yang berlangsung selama 2 jam tersebut, cukup panas dan memancing para santri untuk berargumen dan berani menyampaikan pendapatnya. Bahkan bukan hanya di Forum saja, setelah kegiatan selesai pun, tidak sedikit dari para santri yang melanjutkan kajian di kamarnya masing-masing.
Referensi
1. Az-Zarnuji, Ta’lim Al-Muta’allim, hlm. 29.
2. Muhammad Idrus Ramli, Buku Pintar Berdebat Dengan Wahabi, hlm. iv.
Popularity: 4% [?]
Acara MUDASMAT (Musabaqoh dan Cerdas Cermat) diadakan setiap enam bulan sekali (persemester) yang kali ini dilaksanakan pada tanggal 30 Januari-12 Februari 2011. Diadakan dalam rangka memacu dan menilai belajar setiap santri sehingga diharapakan masing-masing santri yang belum bisa menjuarai lomba akan termotifasi untuk lebih giat lagi belajar. Karena sudah menjadi tradisi Al-musri’ siapa yang pintar atau juara akan menjadi seorang idola, bila santri putri (santriyat) yang jadi juaranya maka akan jadi primadona bagi santri putra (santriyin) begitu sebaliknya.